Perkembangan sensori motor dalam proses belajar

Perkembangan sensori motor dalam proses belajar
Dr. Lestaria Aryanti, SpRM SMF Rehabilitasi Medik RSU Fatmawati
Apabila anak mengikuti tahapan perkembangan sensori motor yang normal maka ia akan dapat melakukan aktifitas sehari-hari di rumah / bermain maupun berinteraksi dan bergaul dengan sesamanya tanpa mendapat kesulitan yang berarti. Kegiatan yang dilakukan sehari-hari ini merupakan latihan bagi fungsi sensori motor yang melibatkan beberapa hal seperti : reaksi postural, keseimbangan, body awaraness, control okulomotor, lokomotor, ketrampilan motorik halus, ketahanan tubuh, dan melakukan kontrol terhadap gerakan yang berlebihan.

Sistem Sensoris
Dalam aktifitas fisik, pergerakan merupakan hal yang utama dan melibatkan lima organ pengindraan sensoris yang saling bekerja sama. Ke lima organ tersebut adalah :
1. sistim keseimbangan,
2. proprioseptif,
3. taktil,
4. penglihatan dan
5. pendengaran.
Sistim vestibular/keseimbangan
terdiri dari kanalis semisirkularis, sakulus, utrikulus dan biasa disebut sebagai organ keseimbangan. Fungsinya adalah untuk menghubungkan persepsi posisi tubuh didalam ruangan serta mempertahankan posture dan keseimbangan. Agar dapat mempertahankan keseimbangan dibutuhkan kerjasama mata, otot dan sendi yang secara terus menerus memantau gerakan yang terjadi.
Sistim taktil dimulai pada saat bayi melakukan eksplorasi melalui mulutnya dengan menghisap dan memasukkan benda-benda ke mulut untuk mempelajari segala sesuatu. Sentuhan pada saat orang tua menggendong akan memberi input tentang keberadaan seseorang dan memberi rasa aman.
Sistim proprioseptif atau rasa tekan, merupakan stimulus internal yang berasal dari posisi-posisi bagian tubuh, pergerakan otot, sendi, tendon maupun keseimbangan serta suhu. Sebagian anak tidak akan melihat kakinya pada saat berjalan karena informasi sensoris akan disampaikan ke otak melalui posisi dan gerakan kaki pada otot dan sendi. Bila berjalan didalam papan keseimbangan stimulus internal akan menempatkan kaki-kakinya, sehingga tidak akan mengalami kesulitan pada waktu meniti balok keseimbangan dan tubuhnya tidak terjatuh.
Sistim pendengaran dan penglihatan merupakan stimulus yang bersifat eksternal. Pada awal perkembangan penglihatan/visual, bayi mulai dapat mengenali perbedaan gelap dan terang, warna, bentuk secara umum dan gerakan. Pada tingkat lanjut akan mengenali hal yang lebih detail/rinci seperti berbagai bentuk dan ukuran serta mengenali orang disekitarnya. Dengan semakin bertambahnya usia, maka penglihatan akan mengenal adanya persamaan dan perbedaan. Sehingga terbentuklah suatu gambaran didalam otaknya mengenai segala sesuatu disekitarnya yang disebut juga sebagai visual discrimination.
Anak belajar melalui mata yang berintergrasi dengan alat indera yang lain, seperti taktil, pendengaran, rasa, bau dan gerak motorik. Sebelum dapat mengeluarkan kata-kata, maka mata bersama dengan tangannya akan memberikan isyarat untuk mengutarakan keinginannya dan juga melalui mata anak belajar memahami fungsi suatu benda dan tujuan suatu tindakan. Dengan demikian meningkatlah kemampuan visual motor skill.
Untuk lebih meningkatkan proses belajar visual, dibutuhkan beberapa aktivitas seperti
· menangkap bola,
· menggambar,
· menggunting dan menulis.
Pada usia sekolah maka anak akan menghadapi berbagai kegiatan yang memerlukan visual skill dan auditory skill. Sistim pendengaran bekerja sama dengan sistim penglihatan akan mengenali suara yang didengar dan menghubungkan dengan apa yang dilihat, sehingga terbentuklah visual auditory perseption. Pendengaran juga berarti bahasa. Suara yang didengar dapat diartikan bahwa ada benda pecah atau ada orang berjalan. Anak belajar berbicara tidak melalui instruksi dari orang tuanya tetapi dari apa yang dilihat dan juga melalui aktivitas yang didengar.
Stimulus Integrasi pada proses perkembangan dan belajar
Sensori integrasi adalah proses pada sistim saraf yang berhubungan dengan persepsi dan pergerakan motorik. Hal ini melibatkan kemampuan otak untuk menerima, mengorganisir, mengartikan dan menggunakan berbagai informasi sensori melalui tubuh dan sistim saraf yang berasal dari stimulus internal maupun eksternal. Proprioseptif, keseimbangan dan taktil merupakan stimulus internal sedangkan sistim penglihatan dan pendengaran merupakan stimulus eksternal. Dalam melakukan aktivitas seringkali kita membutuhkan informasi tambahan melalui indera perabaan dan pengecapan.
Kebutuhan untuk melakukan kombinasi dari satu organ sensori dengan organ sensori yang lain sering kali berlanjut sampai usia sekolah. Ada anak yang mempunyai dorongan kuat untuk selalu menyentuh benda-benda di sekitarnya dan berjalan-jalan. Sebagian menyebutnya hiperaktif tapi bagi seorang ahli mengatakan sebagai anak yang imatur, karena pada keadaan ini anak masih dalam proses perkembangan yang belum selesai.
Dalam proses belajar mengenai suatu benda tidak hanya dibutuhkan indera penglihatan tetapi dibutuhkan juga
perabaan. Melakukan kombinasi dengan berbagai input organ sensori adalah proses yang normal dalam belajar. Bila kita perhatikan pada saat menulis banyak proses sensori integrasi yang terlibat. la harus menggunakan matanya, duduk diam, memegang pensil dan kertas, menggerakkan jari, tangan dan pergelangannya. Sistim penglihatan akan bekerja melihat huruf dan kata serta penyelusuran, sementara sistim keseimbangan dan propioseptif mempertahankan kepala tetap tegak dan keseimbangan pada saat duduk. Bersamaan dengan itu sistim taktil dan proprioseptif harus bekerja agar dapat memegang pensil dan kertas. Walaupun sistim auditory tidak bekerja pada saat menulis, beberapa anak membutuhkan suara agar dapat mengingat bagaimana kata-kata itu berbunyi. Pada kesulitan belajar yang disebabkan oleh gangguan pada salah satu sistim sensori akan sangat menolong bila dalam proses remedial menggunakan sistim sensori yang lain.
Pengaruh perkembangan motorik pada proses belajar dan tingkah laku Pada kondisi tertentu seperti learning disabilities, autism, PDD, ADD/ADHD, gangguan emosi, maka akan terlihat adanya gangguan fungsi motorik yang hampir sama, yang merupakan ciri khas berbagai kondisi tersebut (Tabel 1). Diagnosed ConditionPostural reactionsBalanceBody awarenessOcular ControlLocomotionFine MotorEnduranceExcessive MovementLearning
disabilities Autism Pervasice Developmental Disorder (PDD) High risk(in utero drug exposure) Emotional problems Attention disorder

Kelainan-kelainan tersebut di atas nantinya akan berdampak pada masa depan anak tersebut. Gangguan pada
perkembangan sensori motor akan menyebabkan gangguan pada proses belajar dan kepercayaan diri pada anak. Untuk itu diperlukan penanganan sedini mungkin berupa berbagai kegiatan seperti bermain, yang banyak menggunakan keterampilan baik motorik kasar maupun motorik halus.
Bagaimana mengembangkan sensori motor ?
1. Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga atau bermain baik bersama teman atau individu setiap hari
minimal 30 menit.
2. Pengalaman melakukan aktivitas sensori motor akan meningkatkan keterampilan dan kepercayaan dirinya.
3. Kesalahan adalah bagian dari pembelajaran, sehingga ada baiknya tidak terlalu banyak memberi komentar
pada kesalahan yang dibuat. Biarkan ia membuat kesalahan sampai mampu melakukan aktivitas dengan
benar. Katakan apa yang perlu dilakukan tapi bukan apa yang tidak boleh dilakukan.
4. Libatkan keluarga dalam membantu anak bermain, terutama bila anak mengalami masalah perilaku dan
kesulitan belajar, karena biasanya terdapat juga kesulitan bermain dengan teman sebayanya.
5. Jadikan aktivitas fisik menjadi rutinitas sehari-hari. Bermain adalah kegiatan anak-anak, dengan
melakukan permainan yang melibatkan sensori motor akan meningkatkan juga kekuatan, ketahanan dan
kelenturan. Ada anak yang memerlukan pemanasan seperti aktivitas fisik sebelum mengikuti pelajaran,
sehingga ada baiknya orang tua atau guru dapat menyiapkan kegiatan fisik sebelum anak siap mengikuti
kegiatan di dalam kelas.
6. Dalam melakukan aktivitas di dalam atau di luar rumah harus bebas dari benda-benda yang menggangu
keselamatan maupun konsentrasi selama bermain di tempat tersebut. Sehingga tidak terjadi over stimulasi
dan hiperaktif. Sertakan juga musik agar anak dapat senang dan gembira
7. Diperlukan kreatifitas dalam bermain dengan membuat peraturan yang mudah dan sederhana, dapat
dimengerti oleh anak.

Penutup
Gangguan perkembangan sensori motor akan mempengaruhi kemampuan bermain, interaksi sosial maupun aktifitas sehari-hari yang merupakan proses belajar. Pada akhirnya akan dapat mengganggu masa depannya pada saat dewasa untuk berkarya. Karena itu perlu mengetahui gangguan sensori motor sedini mungkin yang menjadi dasar dari kesulitan belajar dan melakukan penanganan dengan segera terhadap kelainan yang terjadi. Juga tak kalah pentingnya memberi kesempatan anak-anak bermain, berlari, memanjat/melompat dari pada membiarkan anak duduk menatap TV terus menerus atau bermain playstation.

Rujukan
- Cheatum, Billye Ann : Physical Activities for improving children’s learning and behavior: a guide to sensory
Motor development, Human Kinetics, USA 2000
- Kirby Amada, Assesment and treatment of Developmental Coordination Disorder in Children and adolescents,
in Work shop DCD in Singapore, 2005.
- Olivier Carolyn : Learning to learn, Published Simon and Schuster, USA, 19964.
- Bundy, AC, Lane SJ, Murray EA, Sensory Integration Approach : Teori and Practice 2nd ed, F.A. Davis
Company, Philadelphia, 2002.

This entry was posted in Article and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>