Penanganan Anak Disleksia di Sekolah

Penanganan Anak Disleksia di Sekolah
Deisi A. Gautama, Psi
Kepala SD Pantara Jl. Senopati no 72 Kebayoran Baru Jakarta Selatan

Sebagai praktisi yang bergerak dalam bidang pendidikan khusus, narasumber akan berbagi mengenai penanganan anak disleksia di sekolah. Dalam hal ini, mereka ditangani di sekolah khusus untuk anak-anak yang memiliki kesulitan belajar spesifik.

A. Pengertian Disleksia
” Disleksia” merupakan istilah yang banyak digunakan. Kata ini dapat diartikan secara sempit maupun dalam arti yang lebih luas. Kata “disleksia” berasal dari bahasa Yunani:
- “dys” = kesulitan
- “lexis” = kata-kata Dalam arti sempit, disleksia seringkali dipahami sebagai kesulitan membaca secara teknis. Sedangkan dalam arti luas, disleksia berarti segala bentuk kesulitan yang berhubungan dengan kata-kata, seperti kesulitan membaca, mengeja, menulis, maupun kesulitan untuk memahami kata-kata (Pollock & Waller, 1994).

Gejala-gejala yang sering ditemui di sekolah antara lain:
-Sulit mengeja
-Sulit membedakan huruf b dan d
-Kekurangan atau kelebihan huruf dalam menulis
-Sulit mengingat arah kiri dan kanan
-Sulit membedakan waktu (hari ini, kemarin, besok)
-Sulit mengingat urutan
-Sulit mengikuti instruksi verbal
-Sulit berkonsentrasi, perhatiannya mudah beralih
-Sulit berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan (bahasanya kaku dan tidak berurutan)
-Untuk berhitung seringkali juga mengalami kesulitan, terutama dalam soal cerita
-Tulisan sulit dibaca
-Kurang percaya diri

B. Penanganan Secara Umum
Anak disleksia dapat belajar di sekolah reguler ataupun disekolah khusus. Jika dengan kesulitan belajarnya tersebut, anak masih dapat mengikuti pelajaran dengan nilai yang “cukup” dan perkembangan sosial dan emosinya tidak terganggu, maka kondisi ini masih memungkinkan anak itu untuk belajar disekolah reguler. Namun jika kesulitannya itu sangat berpengaruh pada prestasi belajarnya, bahkan sampai tidak naik kelas, maka anak seperti ini sebaiknya ditangani di sekolah khusus agar memperoleh penanganan yang lebih terfokus. Di sekolah khusus yang menangani anak-anak yang memiliki kesulitan belar spesifik (diantaranya anak disleksia), dilakukan pendekatan sebagai berikut:
1) Manajemen kelas kecilDengan kelas yang terdiri dari 10 anak, yang dibimbing oleh 2 orang guru, perhatian
guru untuk masing-masing anak lebih terfokus. Dalam kelas yang relatif kecil ini, siswa juga lebih mudah
mengarahkan perhatiannya.
2) Pendekatan multisensoryAgar siswa lebih mudah memahami pelajaran, guru menyampaikan materi melalui
berbagai indera, baik penglihatan, pendengaran, sentuhan, ataupun dengan pengalaman langsung.
3) Adanya aturan kelasAturan kelas berfungsi untuk mengkondisikan situasi belajar di kelas agar menjadi
kondusif dan proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan lancar. Aturan di masing-masing kelas bisa
berbeda, tergantung dari kondisi siswa dari kelas yang bersangkutan.
4) Adanya reward systemUntuk siswa berkesulitan belajar, reward system ini amat bermanfaat untuk
membangun motivasi mereka. Pada mulanya reward bersifat eksternal dan secara bertahap diubah menjadi
internal
5) Pelatihan ketrampilan sosialPelatihan ini berguna untuk meningkatkan pemahaman terhadap diri sendiri
maupun lingkungan sosial anak. Dalam pelatihan ini, anak juga diarahkan untuk memahami kesulitan
belajarnya dan bagaimana strategi untuk mengatasinya.
6) Belajar dengan iringan musikDi kelas anak belajar dengan iringan musik klasik, untuk mengarahkan
konsentrasi dan emosi mereka.
7) Kegiatan ekstra-kurikuler difokuskan untuk meminimalkan kesulitan belajar anakKegiatan ini bukan
diarahkan pada prestasi, tetapi lebih pada melatih proses-proses yang dapat meminimalkan kesulitan belajar
siswa. Misalnya kegiatan sepak bola difokuskan untuk melatih koordinasi visual-motorik dan kerjasama.

C. Beberapa Contoh Strategi yang Dilakukan di Kelas
Secara faktual, kesulitan anak disieksia bukan hanya pada membaca, tetapi juga pada bidang lain. Menurut
Pollock & Waller (1994), anak disieksia dapat mengalami gangguan di satu atau beberapa bidang dalam
proses belajarnya, yaitu:
1) Membaca
2) Menulis
3) Memahami urutan (sequencing)
4) Memahami orientasi
5) Memahami angka
Di kelas, guru-guru mempunyai strategi yang dikembangkan dengan kreativitasnya masing-masing untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

C. 1. Membaca Membaca dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Membaca teknis
2. Membaca pemahaman
C. 1.1. Membaca teknis Anak yang memiliki kesulitan membaca secara teknis biasanya persepsi visualnya
terganggu. Strategi yang dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca anak, antara lain
dengan
1) Mulai dari hal yang sudah dikuasai anak. Misalnya mulai dari pengenalan huruf, suku kata, kata yang terdiri
dari dua suku kata, dst.
2) Dikte Guru mendiktekan kata atau kalimat, lalu anak menuliskannya.Anak mendiktekan kata atau kalimat,
lalu guru menuliskan, dan anak membacanyakembali (Harwell, 1995)
3) Membaca wacana dan menjawab pertanyaan bacaanMembaca bacaan menggambar, misalnya dari buku cerita
Membaca wacana tanpa gambarGuru dan siswa membaca bersama, kemudian secara bertahap guru
memperkecil volume suaranya (Harwell, 1995)
4) Membedakan b dan d dengan bantuan ibu jari tangan kiri dan kanan.
5) Membuat huruf dengan lilin
6) Saat freetime digunakan untuk membuat tugas-tugas yang melatih persepsi visual
7) Pada pelajaran membaca di kelas, siswa yang mengalami kesulitan membaca diberi giliran membaca paling
akhir agar ia dapat mendengarkan teman-temannya terlebih dahulu.
8) Pada saat tes, tulisan diperbesar.
9) Anak diberikan bantuan dalam membaca, misalnya dibacakan soal pada saat tes, namun bantuan tersebut
akan dikurangi secara bertahap sejalan dengan meningkatnya kemampuan anak
10) Pengurangan jumlah soal

C. 1. 2. Membaca Pemahaman
Anak yang memiliki kesulitan untuk memahami bacaan, biasanya mengalami gangguan dalam berpikir secara
konseptual. Kemungkinan ia juga kurang memahami kata kata demi kata dalam bacaan tersebut. Strategi yang
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman antara lain:
1) Memberikan bantuan gambar pada saat menjelaskan suatu konsep
2) Mind MappingStrategi ini diberikan agar anak memperoleh gambaran umum dari materi yang akan
diajarkan
3) Sebelum membaca suatu wacana, dengan hanya melihat judulnya saja, anak dibiasakan untuk bertanya:
apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, bagaimana
4) Penjelasan langsung pada saat mengalami suatu kejadian, misalnya berkelahi dengan teman, anak langsung
dijelaskan sebab akibatnya.

C. 2. Menulis
Beberapa anak disleksia memiliki tulisan yang buruk. Biasanya hal ini disebabkan karena kontrol motorik yang kurang baik dan tekanan yang kurang sesuai pada saat menulis. Strategi yang biasa dilakukan guru untuk memperbaiki bentuk
tulisan, antara lain dengan:
1) Latihan menulis halus, berupa pola ataupun kalimat. Latihan ini biasanya diberikan pada saat freetime
ataupun sebagai hukuman apabila anak melakukan suatu kesalahan
2) Menggunakan pencil grip
3) Menggunakan pensil 2B untuk anak yang tekanannya terlalu lemah dan pensil H untuk yang tekanannya
sangat kuat
4) Pada saat freetime, diberikan tugas-tugas untuk melatih kemampuan motorik halus, seperti aktivitas ‘dot
to dot’

C. 3. Memahami urutan (sequencing)
Sebagian anak disleksia mengalami gangguan dalam pemahaman urutan (sequential problem). Mereka seringkali sulit mengingat urutan hari dalam satu minggu atupun bulan dalam satu tahun. Mereka juga sulit mengingat deret angka seperti 3, 6, 9, dst… Strategi yang dilakukan guru untuk melatih kemampuan sequencing siswa, antara lain dengan:
1) Siswa diminta untuk menceritakan kembali secara runtut dari apa yang telah diceritakan guru
2) Siswa diminta untuk memceritakan kembali secara runtut dari film pendek yang baru saja ditonton
3) Siswa diminta untuk bercerita, baik secara lisan maupun tertulis, tentang kejadian yang baru dialaminya
4) Melakukan permainan yang melatih kemampuan squencing.

C.4. Orientasi
Banyak anak disleksia yang ragu mengenai orientasi, seperti kiri-kanan, depan-belakang, dan atas-bawah. Bahkan ada di antara mereka yang benar-benar mengalami disorientasi tentang waktu dan tempat dimana mereka berada. Strategi yang dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan orientasi siswa, antara lain:
1) Latihan baris-berbaris
2) Untuk anak yang benar-benar disorientasi mengenai kiri dan kanan, salah satu tangannya diberi tanda,
misalnya dengan gelang
3) Setiap hari di kelas ditekankan mengenai hari dan tanggal
4) Melakukan permainan yang melatih kemampuan orientasi anak. Misalnya guru memberikan instruksi:
“Pegang telinga kiri dengan tangan kanan”

C.5. Pemahaman Angka
Sebagian anak disleksia juga mengalami kesulitan dalam pelajaran matematika. Hal ini biasanya berhubungan dengan kemampuan pemahaman bahasa, masalah sequential, dan pemahaman simbol. Seringkali mereka mengalami kesulitan dalam menghitung mundur dan salah menempatkan angka dalam proses penjumlahan atau pengurangan (spatialproblem). Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, strategi yang digunakan guru antara lain:
1) Menggunakan kertas berpetak untuk proses penjumlahan dan pengurangan2)
Simbol < dan > digambarkan seperti mulut buaya. Disampaikan kepada siswa bahwa mulut buaya selalu
menghadap ke angka yang lebih besar.

Daftar Pustaka
Harwell, Joan M. 1995. Ready-to-Use: Information & Materials for Assessing Specific Learning Disabilities, Complete Learning Disabilities Resource Library Volume 1. West Nyack, New York: The Center For Applied Research in Education Pollock, Joy & Elizabeth Waller. 1994. Day-to-Day Dyslexia in the Classroom. London & New York: Routledge

This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>