Identifikasi Anak Dengan Disleksia

Identifikasi Anak Dengan Disleksia
Oleh : Dra. Lucia RM Royanto, MSi, MSpEd
Disleksia
Disleksia adalah kesulitan belajar spesifik berkaitan dengan penguasaan keterampilan dasar yaitu membaca, mengeja & menulis.

Disleksia dapat dijelaskan pada tingkat neurologis, kognitif & behavioral. Anak dengan disleksia memiliki ciri
· pemrosesan informasi yang tidak efisien,
· kesulitan dalam working memory,
· menyebutkan sesuatu secara cepat & otomisasi keterampilan dasar.
· Seringkali diikuti dengan kesulitan mengurutkan, organisasi & motorik (dalam Reid, 2003).
Di Amerika Serikat, 10% – 15% anak sekolah mengalami kesulitan dalam membaca (Harris & Sipay, 1990). Kesulitan ini merupakan penyebab kegagalan yang terbesar di sekolah, karena anak dengan kesulitan membaca akan memiliki pandangan diri yang negatif dan akan merasa kurang kompeten. Selanjutnya hal ini akan menyebabkan masalah perilaku dan kecemasan, yang tidak jarang kemudian diikuti dengan kurangnya motivasi (Mercer, 1997).

Penyebab disleksia
Penyebab disleksia dapat dibagi menjadi tiga yaitu
· faktor biologis,
· faktor kognitif dan pemrosesan serta
· faktor perilaku.
Oleh karenanya, untuk mengidentifikasi anak disleksia perlu pemeriksaan menyeluruh dari segi biologis, kognitif serta perilaku. Seorang dokter dapat membantu melihat ada tidaknya gangguan biologis yang menyertai, atau ada tidaknya gangguan neurologis. Sedangkan pemeriksaan mendalam dilakukan untuk melihat ada tidaknya masalah dalam segi kognitif serta pemprosesan informasi (Reid, 2001).
Membaca sendiri memiliki dua proses dasar yaitu
· proses decoding atau pengenalan kata dan
· proses pemahaman.
Dalam pengenalan kata, ada beberapa subketerampilan yang perlu dikuasai antara lain analisis fonetik, analisis
struktural, kata-kata yang dikenal tanpa dikuasai keterampilan fonetik (sight words), pengenalan kata melalui pertanda serta penguasaan kosa kata. Sedangkan dalam proses pemahaman, seorang anak dapat memahami dalam berbagai tingkat pemahaman yaitu tingkat literal, tingkat penyimpulan, tingkat evaluasi serta tingkat apresiasi (Barrett, dalam Schloss, Smith & Schloss, 1995).
Dalam melakukan asesmen, maka perlu dilakukan pemeriksaan pada area :
1. kecepatan membaca,
2. ketepatan membaca,
3. pengenalan kata,
4. pemahaman membaca,
5. kosa kata dan
6. kemampuan mengeja (Wong, 1996).
Untuk mengidentifikasi ada tidaknya masalah dalam membaca, dapat dilakukan oleh beberapa orang antara lain guru, orangtua, dokter serta psikolog.
Guru dan orangtua dapat mengidentifikasi dari tes-tes formal serta observasi. Dari observasi kegiatan sehari-hari misalnya, dapat dilihat :
· apakah anak bingung antara kiri dan kanan,
· sering melakukan kesalahan perhitungan,
· bingung pada arah,
· sering tersesat pada lingkungan baru,
· bingung apabila harus memperhatikan detil,
· tidak menyukai puzzles, maze atau aktivitas yang memiliki elemen visual,
· bingung pada huruf-huruf yang bentuknya mirip (b dan d, p dan q),
· sulit mengenali dan mengingat kata-kata yang dilihatnya (namun lebih dapat mengingat kata-kata yang
didengar),
· kehilangan jejak pada saat membaca,
· bingung dan sering terbalik dalam membaca kata-kata tertentu yang mirip (ubi dengan ibu),
· sulit menemukan huruf di dalam kata-kata dan suatu kata di dalam kalimat,
· sulit mengingat kata-kata yang dilihatnya,
· sulit memahami ide-ide utama dari bacaan.
Sedangkan dokter dapat membantu melihat apakah ada masalah neurologis yang menyebabkan kesulitan anak dalam membaca.Seorang psikolog dapat menggunakan tes-tes psikometri untuk memastikan ada tidaknya masalah dalam inteligensi serta kelebihan dan kekurangan anak dalam aspek-aspek inteligentifnya.
Tes-tes psikometri tertentu juga dapat membantu mengidentifikasi ada tidaknya masalah pemrosesan informasi, misalnya dari segi visual, auditif atau motorik. Selain itu penggunaan tes membaca yang formal serta informal juga dapat membantu melihat ada tidaknya masalah dalam membaca. Jadi, untuk membantu anak disleksia, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh sehingga dapat ditentukan bagaimana potensi anak secara keseluruhannya dan dimana kemampuan serta ketidakmampuannya.
Selain itu apakah ada masalah kesehatan atau fisik yang mungkin menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam membaca. Dengan pemeriksaan yang menyeluruh, maka intervensi yang dilakukan pun dapat menjadi lebih terfokus pada penyelesaian masalah spesifiknya.

This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Identifikasi Anak Dengan Disleksia

  1. diah says:

    ciri2 diatas dialami oleh anak sy usia 7 thn, dimana tempat yg bisa membantu mengatasi ini, mhn infonya.

  2. admin says:

    kalau ibu berdomisili di Jakarta, silahkan hadir pada pertemuan bulanan AABB di aula Yakobus Gereja Kristus Ketapang, jl. K.H. Zainul Arifin no. 9 Jakarta Pusat ( terbuka untuk umum )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>