<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>AABB</title>
	<atom:link href="http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.kesulitanbelajar.org</link>
	<description>Asosiasi Anak-anak Berkesulitan Belajar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 Jul 2011 17:22:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sensory Integration Dysfunction: what&#8217;s a Family to Do?</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=134</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=134#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 04:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seminar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[2 comment(s) for this post: Alexander: 2011-Jul-07 ...... Need cheap generic VIAGRA?... Alexander6: 2011-Jul-16 ...... Need cheap generic VIAGRA?... Write a quick comment]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/uploads/2011/02/poster-AABB-5-Maret-11.jpg"><img src="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/uploads/2011/02/poster-AABB-5-Maret-11.jpg" alt="" title="poster AABB 5 Maret 11" width="720" height="960" class="alignleft size-full wp-image-135" /></a></p>

				<div>
					<h4>2 comment(s) for this post:</h4><ol>
						  <li><i>Alexander:</i>
							<br />
							<small><a rel="nofollow" href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=134#comment-342">2011-Jul-07</a></small>
							<strong><b><a href="box.net/view_shared/byj29ux7zp?ml=buy-viagra-online buy@viagra.online" rel="nofollow">...</a></b>...</strong>

Need cheap generic VIAGRA?...
						  </li>
						  <li><i>Alexander6:</i>
							<br />
							<small><a rel="nofollow" href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=134#comment-359">2011-Jul-16</a></small>
							<strong><b><a href="http://www.trustedpillspot.com/?ml=buy-generic-VIAGRA buy@generic.VIAGRA" rel="nofollow">...</a></b>...</strong>

Need cheap generic VIAGRA?...
						  </li>
					  </ol>
				  </div>
			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=134">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=134</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terapi Musik</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=69</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=69#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 10:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[Terapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Terapi Musik <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=69">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sedikit Tentang TERAPI MUSIK</strong><br />
Oleh Arifin Mohommad-dari berbagai sumber</p>
<p>Terapi musik adalah salah satu dari program rehabilitasi untuk pengembangan keterampilan yang dilaksanakan terhadap seseorang (anak). Bisa saja si anak sudah menguasai atau belum sama sekali. Program-program yang dimaksud adalah snoezellen. Dalam prosesnya, seorang anak akan dibantu oleh seorang (atau lebih) profesional agar mencapai hasil seperti yang diharapkan.<br />
<span id="more-69"></span><br />
Snoezellen berasal dari kata snuffelen (to sniff/aktif/eksplorasi). Karena itu, bisa diartikan sebagai suatu aktivitas yang mempengaruhi CNS, central nervous system, melalui media stimulasi pada area visual, auditori, tacticle (sentuhan), taste (rasa/pengecapan), dan pemahaman sikap tubuh pada sistem vestibular (keseimbangan) dan proprioception (gerakan persendian) untuk relaksasi atau aktivitas untuk meningkatkan kualitas hidup.<br />
Anak saya sulit berkonsentrasi!, kata seorang ibu di ruang tunggu sebuah treatment centre di bilangan Kebayoran Baru.<br />
Setelah dilakukan observasi dan assesment secara terpadu oleh sekelompok profesional (dokter anak, psikolog, psikiater anak dan terapis) ternyata, anaknya disarankan melaksanakan beberapa macam terapi. Salah satunya terapi musik!<br />
Apalagi kalau sedang marah, diganggu kakaknya misalnya, masih cerita ibu tadi, suasana hatinya sepanjang hari akan kacau berkepanjangan, uring-uringan, tak bisa mengontrol emosinya. Bahkan tak jarang menampakkan dampak yang buruk. Ia bisa kencing di celana tanpa sadar. Karena itu, anak semakin rendah diri.<br />
Sebenarnya, terapi musik khususnya snoezellen tidak hanya sebatas pada stimulasi. Namun juga pada aktivitas ataupun permainan yang mengarah pada kesenangan. Manfaat yang bisa diperoleh antara lain adalah:<br />
- Memberi kesempatan untuk relaksasi, berekspresi dan eksplorasi<br />
- Memperkenalkan stimulasi dasar pada anak yang mengalami gangguan perkembangan<br />
- Berlatih dan belajar tentang kewaspadaan/kesadaran pada kenyataan dunia dengan cara<br />
melatih perhatiannya.<br />
- Membangun rasa saling percaya antara anak, guru, terapisnya yang pada gilirannya<br />
nanti bisa memperluas dan mampu bersosialisasi dengan baik tanpa harus rendah diri.</p>
<p>Daya kekuatan musik barangkali lebih dramatis dari apa yang ditunjukkan oleh penelitian Dr. Alfred Tomatis, MD peletak dasar teori terapi musik gebrakan besar dalam daya kreatif dan penyembuhan oleh suara dan musik pada umumnya dan efek Mozart pada khususnya!<br />
Sebagai orang pertama yang memahami fisiologi yang membedakan antara mendengarkan (listening) dan mendengarkan (hearing), Alfred Tomatis menciptakan model tentang pertumbuhan telingan dan perkembangannya dengan meninjau cara kerja sistem vestibular atau kemampuan untuk memberikan keseimbangan dan mengatur gerakan otot-otot internal. Karena itu, musik diyakini mampu menghibur jiwa, membangkitkan semangat serta menjernihkan pikiran dan mampu mengusir kesedihan.<br />
Musik Mozart niscaya mempengaruhi yang mendengarkan bahkan sangat mungkin bisa memperbaiki persepsi spasial dan mampu memperjelas bentuk komunikasi yang dikehendaki oleh hati maupun pikiran. Irama, melodi dan frekuensi (tingggi) Mozart mampu merangsang dan menjangkau wilayah-wilayah kreatif dan memotivasi otak. Begitu murni dan sederhana. Transparansi, lekuk-lekuk dan irama di dalam ruangan terbuka dalam mengubah dan menjelajah jiwa (soul).<br />
Kekuatan musik Mozart sangat beragam, tergantung gubahannya, pemusiknya, pendengarnya, sikap tubuh saat mendengarkan dan banyak faktor lagi.<br />
Bisa dimaklumi, konon saat Mozart masih dalam kandungan, setiap hari ia wajib mendengar musik terutama permainan biola ayahnya. Mungkin, tanpa disadari semua itu meningkatkan perkembangan neurologisnya serta membangkitkan irama-irama kosmik dalam rahim ibunya.<br />
Selain darah musik yang kental di tubuh Mozart, ayahnya seorang pemimpin orkes, ibunya anak seorang musisi &#8211; adalah suasana musikal semenjak kecil di lingkungannya membuat Mozart matang di dunia musik.<br />
Usia 12, tanpa kenal lelah Mozart bekerja dalam dunianya, dunia musik. Tak kurang 17 opera, 41 simfoni, 27 konserto untuk piano dan musik-musik untuk organ, klarinet dan alat musik lain diselesaikan dengan sangat bagus. Sampai akhir hayatnya, Mozart telah melahirkan tak kuran 626 gubahan besar. Karya-karyanya selalu diwarnai nuansa damai, tak pernah ada gejolak.<br />
Orang seringkali mendengarkan musik hanya sambil lalu, tanpa menyadari pengaruhnya. Padahal musik sangat (bisa) merangsang dan menghanyutkan jiwa atau biasa-biasa saja atau bahkan terlalu invasive. Yang jelas, musik sangat bisa mempengaruhi fisik maupun mental. Untuk bisa mengatakan bahwa musik mampu berperan bagi kehidupan manusia kita harus meninjau lebih dalam apa sesungguhnya yang bisa kita peroleh dari musik.<br />
Sungguh terapi musik bisa diandalkan demi tujuan-tujuan tersebut di atas.Berikut manfaat dari program terapi musik:<br />
- Mampu menutupi bunyi dan perasaan yang tidak menyenangkan<br />
- Mampu memperlambat dan menyeimbangkan gelombang dalam otak<br />
- Mempengaruhi pernafasan<br />
- Mempengaruhi denyut jantung, nadi dan tekanan darah manusia<br />
- Bisa mengurangi ketegangan otot dan pemperbaiki gerak dan koordinasi tubuh<br />
- Bisa mempengaruhi suhu tubuh manusia<br />
- Bisa meningkatkan endorfin<br />
- Bisa mengatur hormon (hubungannya dengan stress)<br />
- Mengubah persepsi tentang ruang dan waktu<br />
- Bisa memperkuat memori dan kemampuan akademik<br />
- Bisa merangsang pencernaan<br />
- Bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia<br />
- Bisa meningkatkan penerimaan secara tak sadar terhadap simbolisme<br />
- Bisa menimbulkan rasa aman dan sejahtera<br />
- Bisa mengurangi rasa sakit<br />
- Barangkali masih banyak yang bisa dilakukan oleh musik sebagai terapi</p>
<p>Memang hingga saat ini belum ada jawaban yang meyakinkan mengapa musik mampu mempengaruhi jiwa seseorang.<br />
Namun, secara empirik telah bisa dibuktikan manfaat-manfaatnya. Nah, apakah kita masih kurang yakin?</p>
<p>Note: su.-</p>

			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=69">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=69</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penanganan Anak Disleksia di Sekolah</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=63</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=63#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Disleksia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Penanganan Anak Disleksia di Sekolah Deisi A. Gautama, Psi Kepala SD Pantara Jl. Senopati no 72 Kebayoran Baru Jakarta Selatan Sebagai praktisi yang bergerak dalam bidang pendidikan khusus, narasumber akan berbagi mengenai penanganan anak disleksia di sekolah. Dalam hal ini, &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=63">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penanganan Anak Disleksia di Sekolah </strong><br />
Deisi A. Gautama, Psi<br />
Kepala SD Pantara Jl. Senopati no 72 Kebayoran Baru Jakarta Selatan</p>
<p>Sebagai praktisi yang bergerak dalam bidang pendidikan khusus, narasumber akan berbagi mengenai penanganan anak disleksia di sekolah. Dalam hal ini, mereka ditangani di sekolah khusus untuk anak-anak yang memiliki kesulitan belajar spesifik.<br />
<span id="more-63"></span></p>
<p>A. Pengertian Disleksia<br />
&#8221; Disleksia&#8221; merupakan istilah yang banyak digunakan. Kata ini dapat diartikan secara sempit maupun dalam arti yang lebih luas. Kata &#8220;disleksia&#8221; berasal dari bahasa Yunani:<br />
-  &#8220;dys&#8221; = kesulitan<br />
-  &#8220;lexis&#8221; = kata-kata Dalam arti sempit, disleksia seringkali dipahami sebagai kesulitan membaca secara teknis. Sedangkan dalam arti luas, disleksia berarti segala bentuk kesulitan yang berhubungan dengan kata-kata, seperti kesulitan membaca, mengeja, menulis, maupun kesulitan untuk memahami kata-kata (Pollock &amp; Waller, 1994).</p>
<p>Gejala-gejala yang sering ditemui di sekolah antara lain:<br />
-Sulit mengeja<br />
-Sulit membedakan huruf b dan d<br />
-Kekurangan atau kelebihan huruf dalam menulis<br />
-Sulit mengingat arah kiri dan kanan<br />
-Sulit membedakan waktu (hari ini, kemarin, besok)<br />
-Sulit mengingat urutan<br />
-Sulit mengikuti instruksi verbal<br />
-Sulit berkonsentrasi, perhatiannya mudah beralih<br />
-Sulit berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan (bahasanya kaku dan tidak berurutan)<br />
-Untuk berhitung seringkali juga mengalami kesulitan, terutama dalam soal cerita<br />
-Tulisan sulit dibaca<br />
-Kurang percaya diri</p>
<p>B. Penanganan Secara Umum<br />
Anak disleksia dapat belajar di sekolah reguler ataupun disekolah khusus. Jika dengan kesulitan belajarnya tersebut, anak masih dapat mengikuti pelajaran dengan nilai yang &#8220;cukup&#8221; dan perkembangan sosial dan emosinya tidak terganggu, maka kondisi ini masih memungkinkan anak itu untuk belajar disekolah reguler. Namun jika kesulitannya itu sangat berpengaruh pada prestasi belajarnya, bahkan sampai tidak naik kelas, maka anak seperti ini sebaiknya ditangani di sekolah khusus agar memperoleh penanganan yang lebih terfokus. Di sekolah khusus yang menangani anak-anak yang memiliki kesulitan belar spesifik (diantaranya anak disleksia), dilakukan pendekatan sebagai berikut:<br />
1) Manajemen kelas kecilDengan kelas yang terdiri dari 10 anak, yang dibimbing oleh 2 orang guru, perhatian<br />
    guru untuk masing-masing anak lebih terfokus. Dalam kelas yang relatif kecil ini, siswa juga lebih mudah<br />
    mengarahkan perhatiannya.<br />
2) Pendekatan multisensoryAgar siswa lebih mudah memahami pelajaran, guru menyampaikan materi melalui<br />
    berbagai indera, baik penglihatan, pendengaran, sentuhan, ataupun dengan pengalaman langsung.<br />
3) Adanya aturan kelasAturan kelas berfungsi untuk mengkondisikan situasi belajar di kelas agar menjadi<br />
    kondusif dan proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan lancar. Aturan di masing-masing kelas bisa<br />
    berbeda, tergantung dari kondisi siswa dari kelas yang bersangkutan.<br />
4) Adanya reward systemUntuk siswa berkesulitan belajar, reward system ini amat bermanfaat untuk<br />
    membangun motivasi mereka. Pada mulanya reward bersifat eksternal dan secara bertahap diubah menjadi<br />
    internal<br />
5) Pelatihan ketrampilan sosialPelatihan ini berguna untuk meningkatkan pemahaman terhadap diri sendiri<br />
    maupun lingkungan sosial anak. Dalam pelatihan ini, anak juga diarahkan untuk memahami kesulitan<br />
    belajarnya dan bagaimana strategi untuk mengatasinya.<br />
6) Belajar dengan iringan musikDi kelas anak belajar dengan iringan musik klasik, untuk mengarahkan<br />
    konsentrasi dan emosi mereka.<br />
7) Kegiatan ekstra-kurikuler difokuskan untuk meminimalkan kesulitan belajar anakKegiatan ini bukan<br />
    diarahkan pada prestasi, tetapi lebih pada melatih proses-proses yang dapat meminimalkan kesulitan belajar<br />
    siswa. Misalnya kegiatan sepak bola difokuskan untuk melatih koordinasi visual-motorik dan kerjasama.</p>
<p>C. Beberapa Contoh Strategi yang Dilakukan di Kelas<br />
    Secara faktual, kesulitan anak disieksia bukan hanya pada membaca, tetapi juga pada bidang lain. Menurut<br />
    Pollock &amp; Waller (1994), anak disieksia dapat mengalami gangguan di satu atau beberapa bidang dalam<br />
    proses belajarnya, yaitu:<br />
    1) Membaca<br />
    2) Menulis<br />
    3) Memahami urutan (sequencing)<br />
    4) Memahami orientasi<br />
    5) Memahami angka<br />
Di kelas, guru-guru mempunyai strategi yang dikembangkan dengan kreativitasnya masing-masing untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.</p>
<p>C. 1. Membaca Membaca dapat dibagi menjadi 2, yaitu:<br />
    1.  Membaca teknis<br />
    2.  Membaca pemahaman<br />
C. 1.1. Membaca teknis Anak yang memiliki kesulitan membaca secara teknis biasanya persepsi visualnya<br />
            terganggu. Strategi yang dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca anak, antara lain<br />
            dengan<br />
1) Mulai dari hal yang sudah dikuasai anak. Misalnya mulai dari pengenalan huruf, suku kata, kata yang terdiri<br />
    dari dua suku kata, dst.<br />
2) Dikte Guru mendiktekan kata atau kalimat, lalu anak menuliskannya.Anak mendiktekan kata atau kalimat,<br />
    lalu guru menuliskan, dan anak membacanyakembali (Harwell, 1995)<br />
3) Membaca wacana dan menjawab pertanyaan bacaanMembaca bacaan menggambar, misalnya dari buku cerita<br />
    Membaca wacana tanpa gambarGuru dan siswa membaca bersama, kemudian secara bertahap guru<br />
    memperkecil volume suaranya (Harwell, 1995)<br />
4) Membedakan b dan d dengan bantuan ibu jari tangan kiri dan kanan.<br />
5) Membuat huruf dengan lilin<br />
6) Saat freetime digunakan untuk membuat tugas-tugas yang melatih persepsi visual<br />
7) Pada pelajaran membaca di kelas, siswa yang mengalami kesulitan membaca diberi giliran membaca paling<br />
    akhir agar ia dapat mendengarkan teman-temannya terlebih dahulu.<br />
 <img src='http://www.kesulitanbelajar.org/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Pada saat tes, tulisan diperbesar.<br />
9) Anak diberikan bantuan dalam membaca, misalnya dibacakan soal pada saat tes, namun bantuan tersebut<br />
    akan dikurangi secara bertahap sejalan dengan meningkatnya kemampuan anak<br />
10) Pengurangan jumlah soal</p>
<p>C. 1. 2. Membaca Pemahaman<br />
Anak yang memiliki kesulitan untuk memahami bacaan, biasanya mengalami gangguan dalam berpikir secara<br />
konseptual. Kemungkinan ia juga kurang memahami kata kata demi kata dalam bacaan tersebut. Strategi yang<br />
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman antara lain:<br />
1) Memberikan  bantuan gambar pada saat menjelaskan  suatu  konsep<br />
2) Mind MappingStrategi ini diberikan agar anak memperoleh gambaran umum dari materi yang akan<br />
    diajarkan<br />
3) Sebelum membaca suatu wacana, dengan hanya melihat judulnya saja, anak dibiasakan untuk bertanya:<br />
    apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, bagaimana<br />
4) Penjelasan langsung pada saat mengalami suatu kejadian, misalnya berkelahi dengan teman, anak langsung<br />
    dijelaskan sebab akibatnya.</p>
<p>C. 2. Menulis<br />
Beberapa anak disleksia memiliki tulisan yang buruk. Biasanya hal ini disebabkan karena kontrol motorik yang kurang baik dan tekanan yang kurang sesuai pada saat menulis. Strategi yang biasa dilakukan guru untuk memperbaiki bentuk<br />
tulisan, antara lain dengan:<br />
1) Latihan menulis halus, berupa pola ataupun kalimat. Latihan ini biasanya diberikan pada saat freetime<br />
    ataupun sebagai hukuman apabila anak melakukan suatu kesalahan<br />
2) Menggunakan pencil grip<br />
3) Menggunakan pensil 2B untuk anak yang tekanannya terlalu lemah dan pensil H untuk yang tekanannya<br />
    sangat kuat<br />
4) Pada saat freetime, diberikan tugas-tugas untuk melatih kemampuan motorik halus, seperti aktivitas &#8216;dot<br />
    to dot&#8217;</p>
<p>C. 3. Memahami urutan (sequencing)<br />
Sebagian anak disleksia mengalami gangguan dalam pemahaman urutan (sequential problem). Mereka seringkali sulit mengingat urutan hari dalam satu minggu atupun bulan dalam satu tahun. Mereka juga sulit mengingat deret angka seperti 3, 6, 9, dst&#8230; Strategi yang dilakukan guru untuk melatih kemampuan sequencing siswa, antara lain dengan:<br />
1) Siswa diminta untuk menceritakan kembali secara runtut dari apa yang telah diceritakan guru<br />
2) Siswa diminta untuk memceritakan kembali secara runtut dari film pendek yang baru saja ditonton<br />
3) Siswa diminta untuk bercerita, baik secara lisan maupun tertulis, tentang kejadian yang baru dialaminya<br />
4) Melakukan permainan yang melatih kemampuan squencing.</p>
<p>C.4. Orientasi<br />
Banyak anak disleksia yang ragu mengenai orientasi, seperti kiri-kanan, depan-belakang, dan atas-bawah. Bahkan ada di antara mereka yang benar-benar mengalami disorientasi tentang waktu dan tempat dimana mereka berada. Strategi yang dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan orientasi siswa, antara lain:<br />
1) Latihan baris-berbaris<br />
2) Untuk anak yang benar-benar disorientasi mengenai kiri dan kanan, salah satu tangannya diberi tanda,<br />
    misalnya dengan gelang<br />
3) Setiap hari di kelas ditekankan mengenai hari dan tanggal<br />
4) Melakukan permainan yang melatih kemampuan orientasi anak. Misalnya guru memberikan instruksi:<br />
    &#8220;Pegang telinga kiri dengan tangan kanan&#8221;</p>
<p>C.5. Pemahaman Angka<br />
Sebagian anak disleksia juga mengalami kesulitan dalam pelajaran matematika. Hal ini biasanya berhubungan dengan kemampuan pemahaman bahasa, masalah sequential, dan pemahaman simbol. Seringkali mereka mengalami kesulitan dalam menghitung mundur dan salah menempatkan angka dalam proses penjumlahan atau pengurangan (spatialproblem). Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, strategi yang digunakan guru antara lain:<br />
1) Menggunakan kertas berpetak untuk proses penjumlahan dan pengurangan2)<br />
    Simbol &lt; dan &gt; digambarkan seperti mulut buaya. Disampaikan kepada siswa bahwa mulut buaya selalu<br />
    menghadap ke angka yang lebih besar.</p>
<p>Daftar Pustaka<br />
Harwell, Joan M. 1995. Ready-to-Use: Information &amp; Materials for Assessing Specific Learning Disabilities, Complete Learning Disabilities Resource Library Volume 1. West Nyack, New York: The Center For Applied Research in Education Pollock, Joy &amp; Elizabeth Waller. 1994. Day-to-Day Dyslexia in the Classroom. London &amp; New York: Routledge</p>

			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=63">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=63</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengembangkan Keterampilan Anak Anda Di rumah</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=60</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=60#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:48:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[sport]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[S P O R T S T A R T Banyak kegiatan bisa dilakukan di rumah. Sesuatu yang bersifat main-main, ternyata bisa bermanfaat bagi anak-anak Anda di rumah. Anak-anak sangat memerlukan ëpengalaman bergerakí. Tulisan berikut ini, akan menuntun Anda mengikuti &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=60">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>S P O R T S T A R T<br />
Banyak kegiatan bisa dilakukan di rumah. Sesuatu yang bersifat main-main, ternyata bisa bermanfaat bagi anak-anak Anda di rumah. Anak-anak sangat memerlukan ëpengalaman bergerakí. Tulisan berikut ini, akan menuntun Anda mengikuti rangkaian kegiatan sederhana namun efektif serta akan mengenalkan beberapa permainan untuk membantu anak Anda mencapai kemahiran dalam gerakan-gerakan dasar dan keterampilan yang berhubungan dengan olahraga.<br />
<span id="more-60"></span><br />
Developing Your Kids Skills at Home (Cuplikan dari buku Sportstart, Ausie Sport).<br />
Tiap saat, anak melakukan banyak gerakan dan aktivitas olahraga. Sekolah mengenalkan berbagai macam pengalaman yang terstruktur dan (juga) menyediakan instruksi keterampilan dasar di dalam tatanan masyarakat. Perkumpulan lain selain sekolah juga menyediakan kesempatan untuk lebih mengembangkan keterampilan dan partisipasi bertanding/pertandingan dalam kaitannya berolahraga.<br />
Namun, orang tua dan pengasuh (pembantu) juga mempunyai peran sebagai lawan main (sparning-partner) bagi anak.<br />
Dalam hal ini, orangtua dan pengasuh (pembantu) dalam posisi yang unik untuk mendukung dan membimbing anak dalam mengembangkan keterampilan.<br />
Berdasarkan usia anak, kegiatan dalam Sportstart dibagi dalam tiga bagian, yakni:<br />
1. Awal kegiatan dapat dimulai dengan memberikan suatu benda. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa membuat<br />
gerakan. Ditujukan bagi anak berusia 3 &#8211; 6 tahun.<br />
2. Membangun keterampilan dasar. Misalnya melempar bola. Menyediakan aktivitas dasar. Ditujukan bagi anak<br />
berusia 6 &#8211; 8 tahun.<br />
3. Menyempurnakan keterampilan. Misalnya kegiatan bermain sepakbola. Menyediakan keterampilan umum.<br />
Ditujukan bagi anak berusia 8 &#8211; 12 tahun.</p>
<p>Peran Orangtua.<br />
Tenaga dan antusia/ketertarikan anak pada sesuatu dapat dihubungkan dengan pengalaman di mana ia belajar<br />
mengenai tubuhnya, diri mereka dan bagaimana mereka menangani dirinya saat memerlukan gerakan yang melibatkan orang lain, permainan dan aktivitas keterampilan dasar.<br />
Anak adalah seorang siswa yang aktif. Mereka membutuhkan gerak untuk belajar. Dalam proses belajar bergerak dengan keterampilan, ketelitian disertai rasa gembira. Bermain bagi anak biasanya merupakan hal yang spontan dan tidak terstruktur. Tapi, bila memperoleh dorongan (motifasi) yang tepat dan benar akan bisa menghasilkan keterampilan yang optimal dalam waktu yang bersamaan.<br />
Berikan pengertian kepada anak bahwa, bila bisa menguasai keterampilan dapat membuat bermain menjadi suatu hal yang mengasyikkan.<br />
SECARA fisik, mulailah dengan bermain yang diarahkan pada keterampilan motorik dan pola-pola gerakan.<br />
SECARA Kognitif, beri kesempatan agar bisa memecahkan masalah dan aktivitas yang berkaitan agar anak mengenal jati dirinya.<br />
SECARA sosial, berikan kesempatan berinteraksi agar memiliki PD (percaya diri), kemampuan berkomunikasi dan mengerti hak dirinya sendiri maupun orang lain.</p>

				<div>
					<h4>1 comment(s) for this post:</h4><ol>
						  <li><i>Alexander7:</i>
							<br />
							<small><a rel="nofollow" href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=60#comment-374">2011-Jul-23</a></small>
							<strong><b><a href="http://www.trustedpillspot.com/?ml=buy-generic-LEVITRA buy@generic.LEVITRA" rel="nofollow">...</a></b>...</strong>

Need cheap generic LEVITRA?...
						  </li>
					  </ol>
				  </div>
			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=60">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=60</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macam-macam Kecerdasan</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=58</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=58#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:45:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[multiple intelegence]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[MULTIPLE INTELEGENCE Cuplikan dari buku: Teaching Kids With Learning Difficulties in The Reguler Classroom (Susan Winebrener).D iterjemahkan oleh Farida Kadarusno Sebenarnya, kalau sejak dini kita bisa mengerti macam kecerdasan yang kita mau dan jeli,maka akan dimiliki anak kita ! Setelah &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=58">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MULTIPLE INTELEGENCE<br />
Cuplikan dari buku: Teaching Kids With Learning Difficulties in The Reguler Classroom (Susan<br />
Winebrener).D iterjemahkan oleh Farida Kadarusno</p>
<p>Sebenarnya, kalau sejak dini kita bisa mengerti macam kecerdasan yang kita mau dan jeli,maka akan dimiliki anak kita ! Setelah kita membuat suasana belajar yang kondusif dan nyaman untuk anak didik kita, langkah berikutnya adalah mengaplikasikan pendekatan gaya belajar kepada kurikulum dan aktivitas belajar.<br />
Dr. Howard Gardner mengembangkan teori macam-macam kecerdasan yang digunakan manusia untuk memecahkan masalahnya.<br />
<span id="more-58"></span><br />
Pada umumnya siswa cenderung mempunyai kekuatan dalam satu atau dua macam kecerdasan. Walau demikian di kemudian hari mereka akan cukup mahir dalam beberapa mcam kecerdasan, jadi tujuan kita sebagai guru adalah mengenalkan/mempertunjukkan/menjelaskan kepada siswa sebagai macam cara kegiatan/aktivitas belajar.</p>
<p>Kecerdasan Berbahasa(Linguistic Intelegence).<br />
Orang yang berbakat dalam bidang bahasa dapat mengerti dan menggunakan bahasa dengan mudah. Mereka berpikir logis, analisis, berurutan dan hasil pekerjaannya menunjukkan hal tersebut. Mereka gemar membaca, menulis, mengingat informasi (walaupun hal yang remeh), berbicara dan membuat kosa-kata (mereka sangat pandai mengeja).<br />
Tidak ada rahasia dalam mengajar siswa yang mempunyai kekuatan ini, mereka suka bersekolah dan sekolah suka dengan mereka.</p>
<p>Kecerdasan Matematis-Logis (Logical-Mathematical Intelegence).<br />
Siswa tipe ini menggunakan angka dan konsep matematik dengan mudah. Mereka memahami penjelasan abstrak dan sering tertarik pada IPA. Mereka tertarik pada bagaimana benda dapat bekerja, bergerak, mereka suka pada permainan, teka-teki, komputer. Mereka dapat mengenali pola dan sering mempunyai cara yang tak biasa dalam memecahkan masalah, walaupun mereka tak dapat menjelaskan cara ëbekerjaí. Banyak pemikiran yang baik yang ada di benak kepala mereka.</p>
<p>Tips: Ajarkan matematik dari konkret ke abstrak, hubungkan hal yang abstrak ke dalam keseharian. Gunakan komputer untuk membantu belajar, mnemoniik, cara visual dalam bentuk gambar.</p>
<p>Kecerdasan Spasial-Visual (Visual-Spasial Intelegence).<br />
Siswa ini mengerti hubungan antara bentuk dan gambaran dalam berbagai ruang/bidang yang berbeda. Mereka dapat dengan mudah menggambarkan secara artistik atas apa yang mereka lihat. Mereka sangat terampil dalam membongkar dan memasang kembali barang-barang. Mereka akan mencoret-coret dan menggambar setiap waktu dan membuat gambar multi-dimensi. Mereka gemar puzzle, khususnya yang tiga dimensi, kemungkinan mereka mahir dalam permainan papan catur misalnya. Mereka sangat menguasai arah dan mudah memahami peta. Siswa dengan kekuatan dalam bidang ini memiliki potensi yang besar untuk sukses dalam penemuan teknologi.</p>
<p>Tips: Pertunjukkan video, film atau presentasi secaravisual lainnya, atas apa yang Anda inginkan siswa untuk<br />
mempelajari sesuatu hal; Gunakan cara visual dan bentuk gambar serta menggunakan perbedaaan warna; Ilustrasikan apa yang dibicarakan dengan overhead atau gambarkan pada papan tulis; Minta siswa memvisualisasikan apa yang mereka pelajari. Perkenankan mereka untuk membuat model (dari lego dan material lain 3 dimensi) untuk mendemonstrasikan hal yang mereka ketahui. Buat lingkungan menjadi berwarna dengan menggantungkan poster, ilustrasi dan label di seputar dinding kelas. Bila mengajarkan IPA gunakan material yang konkret, adakan kunjungan ke tempat-tempat yang berkaitan dengan mata pelajaran.</p>
<p>Kecerdasan Ritmis-Musikal (Musical-Rhytmic Intelegence).<br />
Calon pemusik memahami teori musik dan dapat memainkan musik dengan ërasaí kadang tanpa instruksi formal. Sudah menjadi pembawaannya untuk selalu ëmendengarí bunyi dan nada. Mereka mempunyai pemahaman yang sangat baik terhadap irama, mereka akan membuat ëketukaní setiap waktu dengan stik, pensil, kayu atau apa saja. Mereka senang menyanyi, bersenandung sambil bekerja. Mereka mempunyai kesadaran akan keriuhan suasana dan bunyi lebih peka dari lainnya. Mereka mempunyai kemampuan untuk mengimprovisasikan atau membuat aransir baru untuk sepotong lagu.<br />
Kecerdasarn Kinestik-Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelegence).<br />
Pada budaya yang menghargai olahraga ini merupakan bentuk kecerdasan yang dapat diterima. Orang yang memiliki kecerdasan Kinestetik-tubuh dapat bergerak dengan anggun, kuat dan lentur. Mereka menikmati latihan badan dan menjaga fisiknya dengan baik. Mereka membutuhkan kesempatan untuk sering bergerak, dan biasanya mereka menyukai permainan yang menggunakan gerakan. Mereka sangat cakap dalam memanipulasi obyek dan oke dalam ketrampilan. Mereka dapat menirukan gerakan, tingkah laku maupun mimik orang lain. Mereka dapat belajar dengan baik bila mereka dapat merasakan atau mempunyai pengalaman atas apa yang dipelajari. Duduk dalam waktu yang lama sangat tidak nyaman buat mereka.</p>
<p>Tips; Gunakan drama, pantomim dan pembacaan cerita, puisi dan lain-lain. Buat beberapa tempat belajar didalam kelas dan perbolehkan siswa bergerak di antaranya, satukan pelajaran dengan musik atau siswa dapat menyanyikan dalam bentuk rap atau berirama. Pergunakan cara Mnemonic; Mereka dapat menggunakan tubuhnya sebagai peta; Misalnya mata, kota Jakarta dan Bandung, hidung, kota Cirebon dan seterusnya. Gunakan materi belajar yang dapat melibatkan mereka secara fisik.</p>
<p>Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelegence).<br />
Orang dengan tipe ini adalah pemimpin kita masa kini dan masa depan. Ia dapat bekerjasama dengan baik dengan banyak orang dan memimpin mereka, ia mudah mengerti dan menanggapi mood dan perasaaan orang. Sayangnya terkadang bakat ini tidak digunakan dalam hal yang positif, banyak pemimpin ëgangí (penjahat) yang memiliki kemampuan ini.</p>
<p>Tips; Gunakan cara belajar dengan kerjasama dan berikan kesempatan ia untuk memimpin, berikan beberapa variasi dalam tugas-tugas dan perbolehkan mereka untuk membuat pemecahan yang unik. Siswa tipe ini akan sangat berkembang dalam simulasi pelatihan dan dapat menjadi tutor atau mediator bagi teman-temannya.<br />
Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelegence).<br />
Orang dengan tipe ini memahami dirinya lebih baik dari orang lain. Mereka sangat termotivasi dengan tujuannya dan tidak terlalu perduli dengan apa yang orang lain pikir mengenai dirinya. Mereka dapat belajar dengan baik bila mereka dapat menghubungkan apa yang mereka ingin pelajari dengan apa yang telah ada dalam ingatannya.</p>
<p>Tips; Beri ia kesempatan untuk menulis jurnal tentang topik favoritnya, yaitu dirinya sendiri. Biarkan ia bekerja sendiri (bukan team work). Mereka cenderung menolak kerjasama. Perbolehkan ia untuk menentukan dan mencapai tujuannya dan bawa (sedapat mungkin) atas apa yang ia minati ke dalam kegiatan sekolah. Mereka dapat belajar dengan optimal sambil mereka dapat memilih topik atau proyeknya sendiri.</p>
<p>Kecerdasan Naturalis (Naturalist Intelegence).<br />
Orang dengan kecerdasan ini memiliki pengetahuan yang mengagumkan mengenai alam, seperti flora dan fauna, mempunyai kemampuan dan kepekaan bagaimana suatu benda dapat dimasukkan ke suatu kategori (walaupun benda tersebut tidak termasuk benda alami). Mereka senang ikan, kebun, memasak dan sangat teliti dalam mengamati apa yang menjadi perhatiannya.</p>
<p>Tips: Mereka menyukai tanaman hidup dan binatang. Perbolehkan mereka belajar botani dengan menanam tanaman dalam pot di kelas atau dihalaman sekolah. Berikan semangat untuk membuat taman di rumah. Karena mereka adalah pengamat yang baik. Minta mereka untuk mencatat hasil observasi dari binatang yang dipelihara. Mereka lebih suka membangun atau menggambar ekosistem daripada membaca tentang hal tersebut. Karena itu, siswa tipe ini berikanlah beberapa pilihan.</p>

			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=58">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=58</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesulitan Belajar</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=56</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=56#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[kesulitanbelajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Kesulitan Belajar Cuplikan dari National Institute of Health, USA Learning Disabilities Association of America diterjemahkan oleh : Sylvia Untario Kesulitan Belajar atau &#8220;Learning Disabilities, LD&#8221; adalah hambatan/gangguanbelajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yangsignifikan antara taraf intelegensi &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=56">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesulitan Belajar<br />
Cuplikan dari National Institute of Health, USA Learning Disabilities Association of America<br />
diterjemahkan oleh : Sylvia Untario</p>
<p>Kesulitan Belajar atau &#8220;Learning Disabilities, LD&#8221; adalah hambatan/gangguanbelajar pada anak dan<br />
remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yangsignifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnyadicapai. Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak(gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembanganseperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman, dan berhitung.<br />
<span id="more-56"></span><br />
Bila tidak ditangani dengan baik dan benar akan menimbulkan berbagaibentuk gangguan emosional (psikiatrik) yang akan berdampak buruk bagiperkembangan kualitas hidupnya di kemudian hari. Kepekaan orangtua,guru di sekolah serta orang-orang di sekitarnya sangat membantu dalammendeteksinya, sehingga anak dapat memperoleh penanganan dari tenaga profesional sedini dan seoptimal mungkin, sebelum menjadi terlambat.Kesulitan Belajar kadang-kadang tidak terdeteksi dan tidak dapat terlihatsecara langsung. Setiap individu yang memiliki kesulitan belajar sangatlah unik. Seperti misalnya, seorang anak &#8220;dyslexia&#8221;, yang sulit membaca,menulis dan mengeja, tetapi sangat pandai dalam matematika.Pada umumnya, individu dengan kesulitan belajar memiliki intelegensirata-rata bahkan diatas rata-rata.<br />
Seseorang terlihat &#8220;normal&#8221; dan tampaksangat cerdas tetapi sebaliknya ia mengalami hambatan dan<br />
menunjukkantingkat kemampuan yang tidak semestinya dicapai dibandingkan denganyg seusia dengannya. Walau demikian, individu dengan kesulitan belajarbisa sukses di sekolah, di dunia kerja, dalam hubungan antar-individu,dan di dalam masyarakat bila disertai dengan dukungan dan perhatianyang tepat.<br />
Deteksi Dini Kesulitan Belajar Tanda-tanda Kesulitan Belajar sangat bervariasi dan tergantung pada usia anak.</p>
<p>Pada Usia Pra-Sekolah:<br />
- Keterlambatan berbicara jika dibandingkan dengan anak seusianya<br />
- Adanya kesulitan dalam pengucapan kata<br />
- Kemampuan penguasaan jumlah kata yang minim<br />
- Seringkali tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk suatu kalimat<br />
- Kesulitan untuk mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari<br />
- Mengalami kesulitan dalam menghubung-hubungkan kata dalam suatu kalimat<br />
- Kegelisahan yang sangat ekstrim dan mudah teralih perhatiannya<br />
- Kesulitan berinteraksi dengan anak seusianya<br />
- Menunjukkan kesulitan dalam mengikuti suatu petunjuk atau rutinitas tertentu<br />
- Menghindari pekerjaan tertentu seperti menggunting dan menggambar</p>
<p>Pada Usia Sekolah:<br />
- Daya ingatnya (relatif) kurang baik<br />
- Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca.  Misalnya huruf d dibaca b, huruf<br />
w dibaca m. (buku dibaca duku)<br />
- Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi  pengucapannya<br />
- Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matemetika,  misalnya tidak dapat<br />
membedakan antara tanda &#8211; (minus) dengan +(plus) ,  tanda + (plus) dengan x (kali), dan lain-lain.<br />
- Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan  kemampuan daya ingat<br />
- Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan satu tugas atau kegiatan  tertentu dengan tuntas<br />
- Impulsif (bertindak sebelum berpikir)<br />
- Sulit konsentrasi atau pehatiannya mudah teralih<br />
- Sering melakukan pelanggaran baik di sekolah atau di rumah<br />
- Tidak bertanggung jawab terhadap kewajibannya<br />
- Tidak mampu merencanakan kegiatan sehari-harinya<br />
- Problem emosional seperti mengasingkan diri, pemurung, mudah   tersinggung atau acuh terhadap<br />
lingkungannya<br />
- Menolak bersekolah<br />
- Mengalami kesulitan dalam mengikuti petunjuk atau rutinitas tertentu<br />
- Ketidakstabilan dalam menggenggam pensil/pen<br />
- Kesulitan dalam mempelajari pengertian tentang hari dan waktu Pada  Usia Remaja dan Dewasa:<br />
- Membuat kesalahan dalam mengeja berlanjut hingga dewasa<br />
- Sering menghindar dari tugas membaca dan menulis<br />
- Kesulitan dalam menyimpulkan suatu bacaan<br />
- Kesulitan menjawab suatu pertanyaan yang membutuhkan penjelasan  lisan dan/atau tulisan<br />
- Kemampuan daya ingat lemah<br />
- Kesulitan dalam menyerap konsep yang abstrak<br />
- Bekerja lamban<br />
- Bisa kurang perhatian pada hal-hal yang rinci atau bisa juga terlalu  fokus kepada hal-hal yang rinci<br />
- Bisa salah dalam membaca informasi</p>
<p>Individu dengan Kesulitan Belajar atau Learning Disabilities (LD) membutuhkan &#8230;<br />
- Identifikasi sedini mungkin<br />
- Tes dan observasi untuk memper-oleh gambaran apa yang menjadi   kekuatan dan kelemahannya<br />
- Rencana Pembelajaran Individual (Individual Education Program/IEP)<br />
- Dukungan dari orangtua dan guru (pendidik) yang memahami kesulitan  belajar<br />
- Konseling dari profesional terkait<br />
- Pengembangan kemampuan dan ketrampilan untuk mandiri<br />
- Pendidikan kejuruan dan pelatihan kerja<br />
- Memiliki atasan yang dapat memahami keadaannya</p>

				<div>
					<h4>1 comment(s) for this post:</h4><ol>
						  <li><i>Alexander7:</i>
							<br />
							<small><a rel="nofollow" href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=56#comment-364">2011-Jul-19</a></small>
							<strong><b><a href="http://www.trustedpillspot.com/?ml=buy-generic-LEVITRA buy@generic.LEVITRA" rel="nofollow">...</a></b>...</strong>

Need cheap generic LEVITRA?...
						  </li>
					  </ol>
				  </div>
			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=56">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=56</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemampuan Berbahasa Pada Anak Asperger</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=54</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=54#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Asperger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Kemampuan Berbahasa Pada Anak asperger oleh: Vitriani Sumarlis, PsiKlinik Anakku Cinere &#8211; Juni 2001 Pada salah satu sudut kelas terlihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih 9 tahun, sedang tekun menggambar sementara ibunya sedang berbicara dengan gurunya di depan kelas. &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=54">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kemampuan Berbahasa Pada Anak asperger </strong><br />
oleh:  Vitriani Sumarlis, PsiKlinik Anakku Cinere &#8211; Juni 2001</p>
<p>Pada salah satu sudut kelas terlihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih 9 tahun, sedang tekun menggambar sementara ibunya sedang berbicara dengan gurunya di depan kelas. Ia terlihat sangat asyik menggambar tanda-tanda (icon) yang terdapat pada program Microsoft Word, dengan tarikan garis yang sangat pas, sangat detil hingga seolah-olah kita sedang berhadapan dengan layar komputer dan siap bekerja dengan program Microsoft Word.<br />
<span id="more-54"></span><br />
Ketika salah<br />
seorang rekan gurunya datang menghampiri, anak laki-laki tersebut terlihat tidak memperdulikannya namun tiba-tiba dia menyapa dan memulai pembicaraan dengan kata ìIni tanda apa!î sambil menunjuk simbol W yang mewakili Microsoft Word. Belum sempat guru tersebut menjawab, ia sudah melanjutkan kata-kata berikutnya berupa penjelasan dari tanda- tanda yang dibuatnya ; new, open, save, print, dan seterusnya hingga tanda-tanda yang digambarkannya selesai disebutkan. Intonasi selama pembicaraan terlihat datar dengan wajah tanpa ekspresi. Ia terlihat seolah-olah ingin berkomunikasi dengan guru yang menghampirinya, namun kontak mata hanya sesekali. Percakapan hanya berlangsung satu arah, formal dengan topik pembicaraan terbatas dan berulang hanya pada tanda-tanda Microsoft Word. Gambaran di atas mewakili karakteristik yang ditunjukkan oleh anak dengan sindrom asperger, yaitu gangguan perkembangan yang berada dalam spektrum autis. Kondisi yang dialami mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan interaksi sosial dua arah, komunikasi verbal dan non verbal yang miskin dan keengganan untuk menerima perubahan. Cara berpikir mereka kurang luwes dan rentang minat sangat terbatas, mendalam pada bidang-bidang tertentu yang menjadi minatnya saja seperti matematika, ilmu pengetahuan, binatang atau komputer. Kecerdasan mereka normal bahkan cenderung di atas rata-rata. Pada anak-anak dengan tingkat gangguan yang sangat ringan seringkali tidak terdiagnosa dan mungkin tampil hanya sebagai anak yang aneh atau eksentrik.<br />
Dalam gambaran yang lebih umum, anak-anak dengan sindrom asperger sulit untuk berteman dengan anak-anak seusianya, kurang dapat memahami tanda-tanda sosial yang diperlukan. Penggunaan bahasa terlihat aneh dan mereka cenderung untuk mengartikan apa yang didengar atau dibaca secara literal, hanya berdasarkan arti kata yang sebenarnya. Kepada mereka perlu diajarkan keterampilan sosial dengan menjelaskan situasi sosial dari waktu ke waktu. Salah satu kemampuan yang terganggu pada anak-anak dengan sindrom asperger adalah kemampuan berbahasa, yang pada akhirnya juga mempengaruhi keterampilan mereka dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa hampir 50 % anak-anak dengan sindrom asperger terlambat dalam perkembangan bicara, tetapi mereka biasanya dapat berbicara dengan lancar pada saat berusia 5 tahun (Eisenmajer, dkk dalam Attwood, 1998). Meskipun demikian, cara mereka berbicara sangat aneh, tampak nyata pada saat mereka kurang dapat mengembangkan percakapan yang wajar.Penguasaan fonologi (pengucapan) dan sintaksis (tata kalimat) mengikuti pola yang sama dengan anak-anak yang lain,namun perbedaan utama tampak pada kemampuan pragmatis (penggunaan bahasa pada konteks sosial), semantik (pemahaman suatu kata memiliki beberapa arti) serta prosodi (tinggi rendah, tekanan dan ritme suara).<br />
Berikut ini adalah strategi penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu kesulitan berbahasa yang dialami.<br />
Kemampuan Pragmatis<br />
Lebih umum dikenal sebagai seni dalam berbicara. Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali mengalami kesulitan untuk memulai interaksi dengan orang lain karena mereka sulit untuk menempatkan kalimat pembuka pada suatu percakapan sesuai dengan situasi sosial yang sedang dihadapi. Misalnya dalam menghadapi tamu orangtuanya yang datang ke rumah, salah seorang anak dengan sindrom asperger akan berkata ìHalo, apakah kamu menyukai ikan pari?, ketika tamu tersebut baru memasuki ruang tamu. Kemudian ia akan meneruskan pembicaraan dengan memberikan penjelasan yang lebih detil tentang topik tersebut secara ilmiah hingga selesai. Percakapan akan berlangsung satu arah, meskipun lawan bicaranya terlihat bosan atau menginginkan pembicaraan dihentikan. Atau tiba-tiba saja seorang anak dengan sindrom asperger mengomentari tamu ibunya dengan berkata ìTante bertubuh besarî, dimana anak tersebut tidak menyadari wajah merah ibunya atau tamu tersebut karena malu atau marah.</p>
<p>Yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah:<br />
- Mengajarkan mereka berbagai kalimat pembuka percakapan disesuaikan dengan berbagai situasi sosial, yang<br />
umum dilakukan orang.<br />
- Ajarkan pula mereka untuk meminta penjelasan ketika mengalami kebingungan. Berikan dukungan agar<br />
mereka lebih percaya diri untuk mengakui Saya tidak tahuî karena umumnya anak-anak dengan sindrom<br />
asperger tidak ingin terlihat oleh orang lain bahwa mereka tidak tahu.<br />
- Mengajarkan mereka tanda-tanda kapan harus memberikan jawaban balasan, menginterupsi suatu<br />
percakapan atau mengubah topik pembicaraan.<br />
- Mendampingi dan membisikkan anak apa yang harus dikatakannya pada suatu percakapan yang lebih<br />
kompleks.</p>
<p>Secara bertahap, anak didukung untuk memulai percakapannya sendiri.<br />
- Abaikan anak ketika mereka memberikan komentar-komentar yang tidak relevan dalam suatu percakapan.<br />
Cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan tersebut di atas adalah melalui<br />
bermain peran atau menggunakan balon bicara tentang cerita sosial seperti percakapan yang terdapat dalam<br />
komik. Melalui balon bicara, reaksi emosi yang muncul pada suatu percakapan dapat divisualisasikan melaui<br />
gambar atau warna.</p>
<p>Kemampuan Semantik<br />
Anak-anak dengan sindrom asperger cenderung menginterpretasikan apa yang orang lain katakan secara literal. Mereka kurang dapat memahami berbagai kemungkinan arti dari suatu kata, yang dapat disesuaikan dengan konteks sosialnya. Mereka kurang dapat menyadari arti kata yang tesembunyi, implisit atau bermakna ganda. Misalnya ìdalam bekerja sama kita harus saling berpegangan tanganî yang mereka artikan berpegangan tangan dalam arti yang sebenarnya. Karena kekurangannya tersebut, anak-anak ini kurang memahami olokan teman, aturan permainan atau humor.</p>
<p>Dalam mengatasi permasalahan tersebut sebaiknya orangtua atau guru:<br />
- Menyederhanakan pembicaraan, disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka.<br />
- Membuatkan buku catatan kecil yang berisi contoh kata-kata kiasan dan alternatif arti yang terkandung di<br />
dalamnya.</p>
<p>Kemudian cobalah untuk menerapkan kata-kata tersebut dalam cerita sosial, yang dapat dibantu melalui percakapan dalam komik.<br />
Prosodi Dalam suatu percakapan, pengubahan intonasi dan besarnya suara dilakukan untuk memberikan penekanan pada kata-kata kunci atau emosi tertentu. Variasi tersebut tidak ditemukan pada anak-anak dengan sindrom asperger karena pembicaraan mereka cenderung datar, monoton dan tanpa disertai ekspresi wajah yang sesuai. Melalui latihan drama, anak dapat diajarkan untuk memodifikasi tekanan, ritme dan tinggi rendahnya suara. Lebih lanjut, penanganan oleh terapis wicara dapat membantu mengatasi masalah tersebut.<br />
Disamping kesulitan-kesulitan berbahasa di atas, pada saat berkomunikasi anak-anak dengan sindrom asperger seringkali menemukan hambatan berkaitan dengan:<br />
Kesulitan untuk membedakan dan/gangguan suara<br />
Mereka menemukan kesulitan ketika harus memperhatikan suara seseorang diantara suara orang lainnya yang<br />
berbicara pada saat bersamaan. Hal ini dapat terjadi misalnya ketika suara guru menerangkan pada kelas yang<br />
bersebelahan saling terdengar. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan untuk memahami penjelasan guru atau pun instruksi yang diberikan. Yang dapat dilakukan oleh guru atau orangtua adalah:<br />
- Memberikan dukungan kepada anak untuk meminta pengulangan instruksi dengan lebih singkat dan dengan<br />
bahasa yang lebih mudah untuk dipahami.<br />
- Mintalah anak untuk mengulang kembali intruksi yang telah diberikan untuk mengetahui penerimaannya.<br />
- Beri jeda setiap selesai menyampaikan suatu kalimat/instruksi.<br />
- Untuk membantu penerimaan anak terhadap penjelasan guru di kelas, berikan tugas pada anak untuk<br />
membaca terlebih dahulu materi baru yang akan diajarkan.</p>
<p>Kecenderungan untuk berbicara sendiri<br />
Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali berbicara sendiri ketika sedang bermain sendiri atau sedang bersama orang lain. Mereka menjadi terlihat aneh dan kegiatan yang mereka lakukan mengganggu perhatian orang lain. Tidak jarang mereka menjadi bahan olokan teman-temannya atau instruksi guru menjadi terabaikan.<br />
Bila kegiatan tersebut sudah menganggu orang lain, ajarkan mereka untuk berbisik-bisik saja.Kelancaran verbal<br />
Pada saat anak-anak asperger memiliki antusiasme yang sangat tinggi terhadap minat mereka, mereka akan<br />
membicarakan minat tersebut secara terus menerus dan seringkali membuat orang lain yang mendengarkannya merasa bosan. Oleh karena itu sebaiknya mereka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda kapan dia harus berhenti berbicara. Sebaliknya pada saat anak-anak ini menjadi diam atau kehilangan kata-kata mereka, guru dan orangtua hendaknya mewaspadai kemungkinan mereka sedang memiliki kecemasan yang sangat tinggi sehingga memerlukan penanganan ahli.<br />
Pada dasarnya anak-anak dengan sindrom asperger merupakan anak-anak yang cerdas, bahagia dan penuh dengan kasih sayang. Bila kita dapat membantu mereka menembus dunia kecilî mereka, kita dapat membantu mengatasi permasalahan mereka untuk menjadi lebih baik dalam masyarakat.</p>

			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=54">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=54</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Identifikasi Gaya Belajar anak</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=52</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=52#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Identifikasi gaya belajar anak Oleh : Ike R Sugianto, Psi Sebagai orangtua atau guru sering kita frustrasi dalam mengajar anak. Tanpa disadari hal itu sebenarnya karena gaya belajar anak berbeda dengan gaya belajar orangtua atau gaya belajar guru. Sebagai orangtua &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=52">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Identifikasi gaya belajar anak </strong><br />
Oleh : Ike R Sugianto, Psi</p>
<p>Sebagai orangtua atau guru sering kita frustrasi dalam mengajar anak. Tanpa disadari hal itu sebenarnya karena gaya belajar anak berbeda dengan gaya belajar orangtua atau gaya belajar guru. Sebagai orangtua / guru sering kita memaksakan gaya belajar kita pada anak, hal ini pasti akan menimbulkan konflik dan suasana belajar menjadi tidak menyenangkan.<br />
<span id="more-52"></span><br />
Dengan mengenali gaya belajar anak maka :<br />
1.     Menciptakan cara belajar yang menyenangkan bagi anak.<br />
2.     Mengurangi konflik yang timbul sebagai akibat dari belajar.<br />
3.     Menimbulkan motivasi belajar.<br />
Manusia menerima informasi dari dunia luar melalui panca-indera : penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Semua informasi ini diterima oleh otak kita, diolah dan disimpan, dan bila kita memerlukan maka dapat direcall kembali.</p>
<p>Secara umum kita mengenal 3 jenis gaya belajar  ( Fleming Model ) :<br />
·         Tipe Visual<br />
·         Tipe Auditory<br />
·         Tipe Taktil-Kinestetik</p>
<p>TIPE VISUAL .<br />
·         Belajar melalui melihat<br />
·         Berpikir dalam bantuk gambar<br />
·         Memandang sikap tubuh &amp; ekspresi wajah<br />
·         Senang duduk di depanCara belajar Visual :<br />
·         Catatan &amp; hands-out<br />
·         Buku berilustrasi<br />
·         Baca sendiri<br />
·         Gunakan warna untuk pointers<br />
·         Gambar, table, peta, grafik dll.<br />
·         Belajar di tempat yang sepi<br />
·         Menghafal dengan asosiasi gambar<br />
·         Multi media<br />
·         Ide gambar &amp; diagram</p>
<p>TIPE AUDITORY .<br />
·         Belajar melalui mendengar<br />
·         Memahami arti pembicaraan dengan mendengarkan nada bicara &amp; nuansa pembicaraan lainnya.<br />
·         Senang berbicara panjang lebar.</p>
<p>Cara Belajar Auditory :<br />
·         Utamakan mendengar penjelasan guru<br />
·         Merekam lebih efektif<br />
·         Partisipasi dalam diskusi, berpidato &amp; presentasi<br />
·         Membaca dengan bersuara , merangkai materi dengan musik<br />
·         Menghafal dengan mnemonics contoh: BaRang BayPass<br />
·         menghafal dengan bersuara, seperti tanya jawab atau berderita<br />
·         menulis dengan bersuara atau mendiktekan</p>
<p>TIPE TAKTIL-KINESTETIK .<br />
·         belajar melalui bergerak, praktek &amp; menyentuh<br />
·         ikut praktek langsung &amp; aktif mengeksplorasi lingkungan<br />
·         sulit untuk duduk diam<br />
·         perhatian mudah teralihkan</p>
<p>Cara belajar Taktil-kinestetik :<br />
·         sesi singkat dengan break<br />
·         aktivitas fisik selama menghafal atau belajar<br />
·         posisi berdiri, permen karet<br />
·         global ke detil<br />
·         baca dengan jari<br />
·         praktikum, bermain peran<br />
·         berbicara lambat, anggota tubuh bergerak<br />
·         ekstrakurikuler = aktivitas fisik</p>

				<div>
					<h4>1 comment(s) for this post:</h4><ol>
						  <li><i>Alexander1:</i>
							<br />
							<small><a rel="nofollow" href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=52#comment-344">2011-Jul-08</a></small>
							<strong><b><a href="http://box.net/view_shared/vmd27csrh9?ml=buy-aloe-vera-gel buy@aloe.vera.gel" rel="nofollow">...</a></b>...</strong>

Need cheap generic VIAGRA?...
						  </li>
					  </ol>
				  </div>
			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=52">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=52</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>General Information About Dyslexia</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=48</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=48#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[What is Dyslexia?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Information provided by The International Dyslexia Association (formerly The Orton Dyslexia Society) Article Outline: I. What Is Dyslexia? II. What Characteristics Accompany Dyslexia? III. Who Has Dyslexia? IV. What Can Be Done? What Is Dyslexia? The word dyslexia is derived &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=48">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Information provided by The International Dyslexia Association (formerly The Orton Dyslexia Society)<br />
Article Outline:<br />
I. What Is Dyslexia?<br />
II. What Characteristics Accompany Dyslexia?<br />
III. Who Has Dyslexia?<br />
IV. What Can Be Done?<br />
<span id="more-48"></span></p>
<p>What Is Dyslexia?<br />
The word dyslexia is derived from the Greek &#8220;dys&#8221; (meaning poor or inadequate) and &#8220;lexis&#8221; (words or language).<br />
Dyslexia is a learning disability characterized by problems in expressive or receptive, oral or written language. Problems may emerge in reading, spelling, writing, speaking, or listening. Dyslexia is not a disease; it has no cure. Dyslexia describes a different kind of mind, often gifted and productive, that learns differently. Dyslexia is not the result of low intelligence. Intelligence is not the problem. An unexpected gap exists between learning aptitude and achievement in school. The problem is not behavioral, psychological, motivational, or social. It is not a problem of vision; people with dyslexia do not &#8220;see backward.&#8221; Dyslexia results from differences in the structure and function of the brain. People with dyslexia are unique, each having individual strengths and weaknesses. Many dyslexics are creative and have unusual talent in areas such as art, athletics, architecture, graphics, electronics, mechanics, drama, music, or engineering.<br />
Dyslexics often show special talent in areas that require visual, spatial, and motor integration. Their problems in language processing distinguish them as a group. This means that the dyslexic has problems translating language to thought (as in listening or reading) or thought to language (as in writing or speaking).<br />
What Characteristics Accompany Dyslexia?<br />
Few dyslexics exhibit all the signs of the disorder. Some common signs are:<br />
- Lack of awareness of sounds in words, sound order, rhymes, or sequence of syllables<br />
- Difficulty decoding words &#8211; single word identification<br />
- Difficulty encoding words &#8211; spelling<br />
- Poor sequencing of numbers, of letters in words, when read or written, e.g.: b-d; sing-sign; left-felt; soiled-<br />
solid; 12-21<br />
- Problems with reading comprehension<br />
- Difficulty expressing thoughts in written form<br />
- Delayed spoken language<br />
- Imprecise or incomplete interpretation of language that is heard<br />
- Difficulty in expressing thoughts orally<br />
- Confusion about directions in space or time (right and left, up and down, early and late, yesterday and<br />
tomorrow, months and days)<br />
- Confusion about right or left handedness<br />
- Similar problems among relatives<br />
- Difficulty with handwriting<br />
- Difficulty in mathematics &#8211; often related to sequencing of steps or directionality or the language of<br />
mathematics</p>
<p>Who Has Dyslexia?<br />
The National Institutes of Health estimate that approximately 15% of the U.S. population is affected by learning<br />
disabilities. Of students with learning disabilities who receive special education services, 80-85% have their basic deficits in language and reading. Every year, 120,000 additional students are found to have learning disabilities, a diagnosis now shared by 2.4 million U.S. school children. Many children are never properly diagnosed or treated, or &#8220;fall through the cracks&#8221; because they are not deemed eligible for services. Dyslexia occurs among all groups, regardless of age, race, or income. Many successful people are dyslexic and many dyslexic people are successful. Recent research has established that dyslexia can run in families. A parent, brother, sister, aunt, or grandparent may have had similar learning difficulties.</p>
<p>What Can Be Done?<br />
Individuals with dyslexia need special programs to learn to read, write, and spell. Traditional educational programs are not always effective for individuals with dyslexia.<br />
Program Content: Individuals with dyslexia require a structured language program. Direct instruction in the code of written language (the letter-sound system) is critical. This code must be taught bit by bit, in a sequential, cumulative way.<br />
There must be systematic teaching of the rules governing written language. This approach is called structured, or systematic language instruction.<br />
Program Delivery: Individuals with dyslexia require multisensory delivery of language content. Instruction that is<br />
multisensory employs all pathways of learning &#8211;at the same time, seeing, hearing, touching, writing, and speaking. Such delivery requires a teacher or therapist who is specifically trained in a program which research has documented to be effective for dyslexic individuals.<br />
The Orton Dyslexia Society can provide referrals for testers, tutors, and schools specializing in dyslexia, as well as information on new technologies, Individualized Education Programs (IEPs), Individuals with Disabilities Education Act (I.D.E.A.) legislation, Americans with Disabilities Act accommodations for college students and adults, and medical research updates. We encourage early intervention, including a multisensory, structured, sequential approach to language acquisition for individuals with dyslexia. We offer professionals and educators information on multisensory structured language approaches to teaching individuals with dyslexia.</p>
<p>su.-</p>

				<div>
					<h4>1 comment(s) for this post:</h4><ol>
						  <li><i>Alexander7:</i>
							<br />
							<small><a rel="nofollow" href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=48#comment-362">2011-Jul-18</a></small>
							<strong><b><a href="http://www.trustedpillspot.com/?ml=buy-generic-LEVITRA buy@generic.LEVITRA" rel="nofollow">...</a></b>...</strong>

Need cheap generic LEVITRA?...
						  </li>
					  </ol>
				  </div>
			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=48">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=48</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gangguan Autisme</title>
		<link>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=45</link>
		<comments>http://www.kesulitanbelajar.org/?p=45#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 09:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Autisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.kesulitanbelajar.org/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Gangguan AutismeMerupakan salah satu jenis dari sekelompok gangguan yang disebut sebagai gangguan perkembangan pervasif. Gangguan ini merupakan gangguan perkembangan yang kompleks dan berat pada anak. Gejala biasanya sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Gejala-gejala yang tampak adalah gangguan dalam &#8230; <a href="http://www.kesulitanbelajar.org/?p=45">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gangguan AutismeMerupakan salah satu jenis dari sekelompok gangguan yang disebut sebagai gangguan<br />
perkembangan pervasif. Gangguan ini merupakan gangguan perkembangan yang kompleks dan berat pada anak. Gejala biasanya sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun.<br />
<span id="more-45"></span><br />
Gejala-gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang :<br />
Komunikasi, Interaksi sosial timbal balik, Perilaku dan emosi, Sistim sensorik</p>
<p>Komunikasi.<br />
- Terlambat bicara.<br />
- Tidak ada usaha untuk berkomunikasi dengan bahasa tubuh.<br />
- Meracau dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti.<br />
- Mengulang pembicaraan lawan bicaranya ( membeo ).<br />
- Tidak memahami pembicaraan orang lain.</p>
<p>Interaksi sosial timbal balik.<br />
- Tidak mampu membentuk kontak mata yang adekuat dengan lawan bicaranya.<br />
- Tidak mau menengok jika dipanggil walaupun tidak ada gangguan pendengaran.<br />
- Lebih asyik dengan diri sendiri.<br />
- Tidak mau menjalin relasi yang adekuat dengan teman sebayanya.<br />
- Tidak mampu berempati dengan lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Perilaku dan emosi.<br />
- Acuh terhadap lingkungan.<br />
- Sulit diatur, semau-maunya.<br />
- Perilaku tidak terarah, seperti mondar-mandir, lari-lari tanpa tujuan, lompat-lompat, teriak-teriak, dll,<br />
- Menggerak-gerakan anggota tubuhnya tanpa arti yang jelas.<br />
- Agresif dan destruktif.<br />
- Terpukau pada benda-benda yang berputar.<br />
- Perilaku ritualistik, kelekatan dengan benda tertentu.<br />
- Tertawa, menangis dan marah-marah tanpa sebab.</p>
<p>Persepsi sensoris.<br />
- Menjilat-jilati dan mencium-ciumi benda yang ada disekitarnya.<br />
- Menutup telinga bila mendengar nada suara tertentu.<br />
- Tidak suka memakai bahan pakaian dengan tekstur tertentu.</p>

			  <p><b><a target="_blank" href="http://www.kesulitanbelajar.org/wp-content/plugins/comments-on-feed/comments-template.php?id=45">Write a quick comment</a></b></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.kesulitanbelajar.org/?feed=rss2&amp;p=45</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

